Wayang bisa menjadi media dakwah, Pendidikan, dan hiburan. Menurut Marina Puspitasari 2008:4 dalam (Anggoro, 2018) Di Indonesia mempunyai kurang dari 100 jenis wayang tumbuh dan berkembang. Wayang kulit Purwa berkembang pesat di Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Wayang golek Sunda berkembang di Jawa Barat, wayang Kulit Parwa di Bali.
Asale wayang miturut angitane Pakdhe Sariengat kabeh mau ya mung saka jawa sing uwis Banter lakune, Gentur tapane, Mateng semedine ing wusana kaparing apa ingkang dadi sedya ing wusana, pinaringan ing panyuwune, kinabulake sak laku jantrene kuwat lan kena kanggo tuntunan ing uripe ben kena diconto utawa tinuladha digugu reh perintahe, ing
Cerita wayang dapat mengajarkan manusia untuk hidup yang selaras, harmonis, dan bahagia (Gunarjo, 2011). Cerita wayang juga dijadikan sebagai materi ajar bagi siswa di sekolah. Cerita wayang yang sarat akan nilai moral dan etika membuat wayang dimasukkan sebagai salah satu materi dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Dalam Kamus Bahasa Sunda disebutkan bahwa wayang adalah boneka berbentuk manusia yang dibuat dari kulit atau kayu, dan lebih ditegaskan lagi pengertian wayang sama dengan sandiwara boneka.2 Dalam pengertian luas wayang bisa mengandung makna gambar, boneka tiruan manusia yang terbuat dari kulit, kardus, seng, mungkin kaca-serat (fibre-glassSecara umum, berdasarkan waktu pementasannya, wayang kulit bali dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu wayang lemah dan wayang peteng. Pertunjukan wayang kulit umumnya melibatkan sekitar 3-15 orang yang meliputi: dalang, pengiring, dan jika diperlukan sepasang pembantu dalang . Sama seperti pertunjukan wayang kulit di Pulau Jawa, pemimpin
Wa9An.